Renungan Kristen Tentang Kasih Ibu

Renungan Harian Kristen Tentang Kasih Ibu

Bersamakristus.org – Renungan kristen tentang kasih ibu. Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia. Itulah sepenggal lagu masa kecil yang sangat sering kita nyanyikan, apakah Anda masih ingat lagu penuh makna tersebut?

Benar, di dalam lagi ini terkandung makna yang sangat dalam bahwa ibu, mama, atau bunda kita selalu memberi kasih yang tak terhingga. Mulai dari ketika kita masih berada di dalam kandungan hingga dewasa, ibu selalu memberikan kasih-Nya.

Seperti kasih Tuhan Yesus yang takkan pernah berhenti menyertai hidup kita. Kasih dari ibu tak akan pernah lekang oleh waktu dan sebagai anaknya, kita tak akan pernah mampu membalas kasihnya. Yang bisa kita lakukan adalah memanjatkan doa kristen untuk orangtua agar ibu sehat selalu, panjang umur, dan diberi berkat yang banyak.

Mungkin ada beberapa orang di antara kita yang masih tidak menyadari kasih ibu, bahkan mereka cenderung tidak peduli. Kadang kita juga melihat ada anak yang dengan sengaja menelantarkan ibunya, bahkan menyiksanya dengan kejam. Bukankah itu sebuah hal yang tak boleh dilakukan?

Maka dari itu pada kesempatan ini kami ingin membagikan sejumlah renungan harian rohani Kristen tentang kasih sayang ibu yang mudah-mudahan dapat menyadarkan kembali hati kita betapa besar kasih sayang yang diberikan oleh ibu kepada kita dari kecil hingga dewasa.

Bentuk Kasih Sayang Ibu dalam Kristen

Ibu adalah sosok yang luar biasa. Dalam Kristen, ada berbagai bentuk kasih sayang seorang ibu yang tak lekang oleh waktu. Berikut adalah beberapa di antaranya.

1. Ibu Memberikan Kasih Sayang

Kita bisa saja mendapatkan cinta dari orang sekitar, entah itu saudara, teman, atau pasangan. Namun percayalah, cinta mereka tidak akan pernah menyamai cinta dari Ibu. Cinta orang lain biasa hilang, namun cinta ibu tidak akan pernah sirna meski kita melukai hatinya.

2. Orang Pertama yang Khawatir

Teman kita boleh banyak, namun pikirkanlah ada berapa yang setia? Berapa yang pergi ketika kita tertimpa masalah? Ya begitulah. Mereka juga memiliki masalah sendiri yang harus diselesaikan. Berbeda dengan ibu, dia akan menjadi orang pertama dan akan selalu ada ketika kita tertimpa musibah.

3. Tempat Curhat yang Nyaman

Curhat kepada teman bisa saja dibocorkan ke orang lain, namun ketika bercerita ke ibu, dia akan bisa menjaga rahasia dan menutupi aib Anda. Ibu adalah tempat berkeluh kesah yang paling nyaman melebihi siapapun.

4. Ibu Rela Memberi Meski Dia Tak Memiliki

Ibu rela mengorbankan dirinya hanya demi kebahagiaan ankanya. Termasuk ketika Anda sedang tak memiliki uang, ibu pasti akan dengan sukarela memberikan uangnya meskipun dia sendiri merasa kekuarangan.

5. Motivator yang Terus Memberi Semangat

Saat Anda merasa terpuruk, ibu adalah satu-satunya sosok yang akan selalu setia memberi Anda semangat. Tidak peduli orang lain meremehkan atau bahkan merendahkan Anda. Bagi ibu, Anda adalah anak yang paling hebat.

6. Tetap Tersenyum Meski Hatinya Terluka

Entah bagaimana ibu selalu mampu memaafkan kesalahan kita sebelum kita meminta maaf kepadanya. Sekalipun perbuatan kita menyakiti hatinya, dia masih sanggup tersenyum seolah tak terjadi apapun.

Baca:

Renungan Rohani Kristen Tentang Kasih Sayang Ibu

Di bawah ini adalah beberapa renungan harian rohani Kristen tentang kasih sayang ibu yang bertahan sepanjang masa untuk saat teduh, renungan air hidup, dan renungan Kristen singkat yang menyentuh hati dan memotivasi.

1. Kasih Seorang Ibu

“Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Amsal 1:8.

Pepatah bijak mengatakan kasih ibu sepanjang zaman dan kasih anak sepanjang galah. Melalui pepatah ini kita digambarkan bahwa kasih seorang ibu kepada anaknya tak akan pernah berakhir. Semantara kasih anak kepada ibunya sangatlah terbatas. Contoh kasih ibu yang tak terbatas ditunjukkan oleh Nancy Matthews Edison, dia adalah ibu dari penemu bola lampu Thomas Alva Edison.

Thomas adalah anak yang memiliki gangguan pendengaran, dinilai sebagai anak yang lambat dalam berpikir dan tak memiliki bakat, sehingga dia terpaksa dikeluarkan oleh pihak sekolah dan hanya mengenyam pendidikan formal di sekolah selama 3 bulan saja.

Dalam kondisi seperti itu, pasti banyak yang menilai bahwa anak ini tak memiliki masa depan, namun berkat kesabaran dan kasih tulus dari ibunya, perlahan namun pati, Thomas kecil pun mulai menciptakan masa depannya. Sang ibu yang berprofesi sebagai guru memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi anaknya di rumah. Meski memiliki banyak kekurangan, dia tak patah semangat untuk terus mendidik dan mengajar anaknya.

Thomas pun tak menyia-nyiakakn usaha ibuya, ia mau belajar dan patuh kepada apa yang diajarkan ibunya. Meski tak mengikuti pendidikan formal, namun Thomas memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Alhasil setelah ribuan kali gagal, dia berhasil menciptakan penemuan yang menerangi dunia ini.

Salomo mengingatkan kepada anak-anak untuk tidak menyia-nyiakan ibunya. Jika kita berperan sebagai orangtua, berikanlah yang terbaik dari waktu, tenaga, dan pikiran semaksimal mungkin untuk anak-anak, maka kelak kita akan menikmati buah dari kerja keras tersebut.

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.” (Efesus 6:1).

2. Menjadi Penjaga Jiwa

“Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” 1 Tesalonika 2:7.

Selain dipanggil menjadi penjaga orang yang hidup jauh dari Tuhan, kita dipanggil menjadi penjaga saudara seiman yang sedang lemah imannya dan undur diri dari Tuhan.

Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” (Yehezkiel 3:20).

Saudara seiman adalah keluarga bagi kita, kawan sewarga orang kudus dan anggora keluarga kerajaan Allah, jadi kita harus selalu menjaga kerukunan dengan saling mengasihi, memperhatikan, menasihati, mendukung, menguatkan, supaya kita bertumbuh dalam iman.

Mari belajar dari Rasul Paulus yang memposisikan dirinya seperti ibu bagi ornag yang dilayani dengan penuh kesabaran ia mengasuh dan merawat jiwa yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

“…seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.” (1 Tesalonika 2:11-12).

Rasul Paulus mampu menjalankan perannya sebagai penjaga bagi sesama dengan kasih yang tulus tanpa disertai maksud yang tidak murni, tanpa tipu daya, bukan untuk menyukakan manusia, mencari pujian bagi diri sendiri, melainkan untuk kerinduannya yang besar demi mewujudkan keselamatan jiwa-jiwa.

Semakin dewasa kita secara rohani, seharusnya semakin besar kepekaan kita terhadap kebutuhan orang lain, baik kebutuhan fisik ataupun kebutuhan rohani. Jangan pernah berkata sudah melayani Tuhan bila kita tak memiliki hati yang terbeban terhadap orang lain. Itulah arti pelayanan sejati.

“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” Yakobus 1:27.

Akhir Kata

Sekian pembahasan mengenai renungan rohani kristen tentang kasih ibu. Mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi kita sehingga dapat lebih banyak memperhatikan ibu yang telah memberikan kasih sayangnya yang luar biasa. Amin.

Baca:

Tinggalkan komentar