Renungan Kristen Tentang Tanggung Jawab

Renungan Harian Rohani Khotbah Pemuda Kristen Tentang Tanggung Jawab

Bersamakristus.org – Renungan Kristen tentang tanggung jawab. Seorang manusia harus memiliki sikap tanggung jawab, apalagi laki-laki yang harus menjadi kepala keluarga suatu saat nanti. Ketika seseorang tak bertanggung jawab terhadap keluarganya, hubungan keluarga yang tadinya harmonis bisa saja hancur berantakan dan berujung pada perceraian.

Padahal Tuhan telah menyebutkan bahwa perceraian bukan hal yang baik, sesuai apa yang tertera dalam ayat alkitab tentang perceraian. Tak hanya soal berperan sebagai kepala keluarga. Tanggung jawab juga harus dikedepankan pada saat seseorang menjadi pemimpin pada sebuah organisasi, kelompok, atau perusahaan.

Namun kadang seseorang tak memahami betul bagaimana harus bersikap bertanggung jawab. Kadang, mereka justru mengabaikan sebuah janji hanya karena diiming-imingi sesuatu yang lebih baik atau untuk menghindari keburukan. Padahal, bertanggung jawab adalah sikap yang harus dimiliki semua orang, entah itu Kristen, Katolik, ataupun agama lainnya.

Maka tak heran bila dewasa ini kita sering mendengar renungan-renungan bijak tentang tanggung jawab. Baik saat beribadah di gereja, melalui kutipan di media sosial, ataupun khotbah-khotbah yang dibacakan pemuka agama. Sedikit banyaknya hal tersebut membuat pikiran kita kembali terbuka akan tanggung jawab.

Nah pada kesempatan ini kami ingin membagikan beberapa renungan harian rohani Kristen tentang tanggung jawab yang diambil dari berbagai sumber, salah satunya adalah ayat emas Alkitab. Simak ulasannya secara lengkap di bawah ini.

Renungan Remaja Kristen Tentang Ulang Tanggung Jawab

Langsung saja, berikut adalah beberapa renungan harian rohani Kristen dan Katolik singkat, menyentuh hati, menyejukkan jiwa, dan memotivasi kita untuk memiliki sikap tanggung jawab yang baik sebagai laki-laki atau perempuan.

1. Harus Bertanggung Jawab

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:21.

Tuhan berkuasa mengerjakan segala sesuatu, namun ada hal tertentu Dia ingin kita menjadi pendamping-Nya karena kita diciptakan untuk sebuah misi, yaitu dia ingin kita bekerja sama dengan-Nya.

Tugas yang Tuhan Yesus jalankan semasa ada di bumi sekarang menjadi tugas dan tanggung jawab kita karena kita adalah bagian dari Tubuh Kristus. Dia telah memilih kita untuk menjadi kawan pekerjaan-Nya. Dia juga memilih kita untuk mengambil bagian dalam memenuhi tujuan dan rencana-Nya.

“…kami adalah kawan sekerja Allah;” (1 Korintus 3:9a).

Meskipun demikian, Tuhan tak pernah memaksa kita. Pilihan tetap ada di tangan kita, mau atau tidak? Itu tergantung keputusan masing-masing.

Banyak orang Kristen tak produktif karena meremehkan ketaatan kepada Tuhan. Mereka menola bekerja sama dengan Tuhan karena kemalasan dan ketidaktaatannya. Tuhan pun akan membiarkan mereka, sebab tak perlu Tuhan memaksakan kehenadk kepada manusia.

Banyak orang dengan anugeah Allah melalui iman telah lahir baru, namun kemudian mereka telah gagal bekerja sama dengan Roh Kudus dalam kehiduapan kudusnya, yang menjadikan prodes untuk semakin hari semakin serupa dengan Kristus. Mereka memili kerdil dan tak berubah, orang seperti ini biasanya akan menyalahkan Tuhan, seperti hamba yang menerima satu talenta.

“Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!” (Matius 25:24-25).

Barang tentu tuannya sangat marah dan menjatuhkan hukuman. Tidak seharuasnya mereka menyalahkan Tuhan atas kegagalannya karena mereka sendiri telah menolak atau meremehkan untuk tidak bekerja sama dengan Tuhan. Oleh karena itu mereka tak akan pernah mengembangkan akarnya mencapai kedalaman yang dibutuhkan untuk dapat menghasilkan buah.

Intinya setiap orang Kristen bertanggung jawab atas apa yang mereka peroleh dari Tuhan. Bila tak ada pertanggungjawaban, yang mereka terima akan diambil kembali.

2. Jangan Lari dari Tanggung Jawab

“‘Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorangpun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu.'” Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: ‘Hidup raja!'” 1 Samuel 10:24.

Dipercaya Tuhan untuk mengerjakan pelayanan aadlah anugerah, suatu berkat yang tak ternilai, karena tak semua orang bisa dipercaya. Dipercaya berarti diberi mandat atau tanggung jawab dan itu dikerjakan atau dilaksanakan.

Bila ada orang yang diperacya untuk suatu tugas namun ia lari dari tanggungjawabnya, berarti ada kemungkinan orang tersebut tidak siap secara mental untuk mengemban tugas yang telah dipercayakan atau orang itu memandang remeh tugas tersebut.

Sikap ini yang ditunjukkan oleh Saul. Saat segenap umat Israel berkumpul guna memilih seorang daja dengan menyumbang undi.

“…menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin. Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish.” (1 Samuel 10:20-21).

Hasilya Saulterpilih. Namun pada saat namnya dipanggil agar ada di tengah-tengah mereka, ia tak berada di tempat. Melainkan bersembunyi di antara barang-barang.

Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan. Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: ‘Apa orang itu juga datang ke mari?’ TUHAN menjawab: ‘Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang.'” (1 Samuel 10:21b-22).

Sikap dan tindakannya inilah yang merupakan suatu tindakan bodoh dan kekanak-kanakan. Sikap lari dari tanggung jawab dengan cara bersembunyi ini pada akhirnya selalu diperbuat oleh Saul sepanjang hidupnya.

Saat melakukan sesuatu kesalahan, Saul enggan mengakuinya, namun cenderung menyalahkan orang lain atua mengambinghitamkan yang tak bersalah. Bukankah banyak orang percaya yang memiliki sikap seperti Saul?

Mudah sekali lari dari tanggung jawab, lari dari panggilan Tuhan dengan berbagai dalih seperti sibuk, merasa tidak siap. Saat melakukan kesalaahn, kita enggan mengakuinya dengan jujur. Padahal lari dari tanggung jawab yang Tuhan percayakan adalah tanda bahwa orang tidak dewasa rohani.

Akhir Kata

Sekian pembahasan mengenai renungan rohani kristen tentang tanggung jawab. Mudah-mudahan kita bisa memaknai setiap kalimat dalam renungan atau khotbah singkat ini agar dalam diri kita makin tumbuh sikap bertanggung jawab yang kuat. Amin.

Baca:

Tinggalkan komentar