Asal Usul Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Sejarah Sakramen Pengurapan Orang Sakit dalam Katolik

Bersamakristus.org – Sakramen pengurapan orang sakit. Salah satu sakramen yang ada dalam kepercayaan Katolik adalah pengurapan orang sakit. Sakramen dalam gereja Katolik ini masuk dalam kategori penyembuhan.

Sakramen ini ditujukan untuk mereka yang ingin mendapatkan pemulihan secara jasmani atau rohani. Selain itu sakramen ini juga untuk pengurapan orang sakit atau sakramen minyak suci untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan.

Sakramen ini memiliki tujuan penyembuhan dan pengampunan adalah karena berasal dari karya dan kehidupan Yesus Kristus. Seperti dijelaskan dalam Injil bahwa kita bsia mengetahui banyak mukjizat Yesus untuk menyembuhkan dan mengampuni orang berdosa.

Untuk lebih mengenal lagi tentang asal usul, sejarah, awal mula, penyebab adanya sakramen pengurapan orang sakit bisa dilihat pada pembahasan di bawah ini. Anda bisa menyimak ulasan lengkapnya pada uraian berikut.

Awal Mula Sejarah Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Sejarah sakramen ini bermula pada masa sejarah gereja perdana, kemudian berlanjut pada periode carolingan, hingga masa kini. Selengkapnya silahkan simak pembahasan berikut.

1. Gereja Perdana

Murid-murid Yesus telah mengusir banyak setan, mengoleaskan banyak orang sakit dengan minyak serta menyembuhkan mereka. Ini merupakan contoh praktek prngurapan orang sakit pada gereja perdana.

Tapi pada saat itu pengurapan dilakukan bukan dalam bentuk sakramen, melainkan hanya pelayanan biasa saja. Kemudian Korespondensi Paulus menganggap hal itu sebagai karunia penyembuhan yang bersifat karismatik, sedangkan Yakobus lebih mengartikan praktek tersebut sebagai sebuah pelayanan penyembuhan bersifat gerejawi.

Pandangan ini berlanjut selama periode patristik awal, karena pada abad ketiga dan keempat, Origen dan John Chrysostom menafsirkan surat Yakobus sebagai penyembuhan yang cenderung ke arah spiritual dibanding fisik.

Mereka menganggap bahwa Tuhan merupakan orang Yahudi dan pasti akan merasa asing dengan istilah penyembuhan fisik atau spritual. Selain itu mereka juga berpendapat bahwa Yesus mungkin akan memandang penyembuhan sebagai salah satu hal yang mempengaruhi keseluruhan pribadi seseorang.

2. Abad Kelima

Penggunaan minyak tidak digunakan oleh imam saja, orang awam juga boleh menggunakannya kapan saja mereka butuhkan. Seiring perkembangan zaman, pendapat tentang makna pengurapan orang sakit juga semakin berkembang yang menjadi lebih universal.

3. Periode Patristik

Di masa ini, penyembuhan yang sebenarnya bisa didapat dari doa orang beriman serta pengurapan menggunakan minyak suci. Ketika itu didominasi oleh minyak sudi dan banyak orang menganggap minyak suci sebagai obat dari gereja.

Mereka tentu saja percaya akan kekuatan minyak pengurapan untuk menyembuhkan sakit, sehingga penggunaannya menjadi tidak teratur. Mereka mengurapi satu sama lain dan mengoleskan minyak urapan pada bagian yang sakit tanpa disertai iman.

4. Periode Carolingan

Pada masa periode carolingan terjadi perubahan lagi mengenai makna dan artinya. Perubahan ini bermula dengan dibentuknya ritual penyembuhan bagi pastur yang sedang sekarat. Ritual ini diawali dengan penerimaan sakramen tobat dan dilanjutkan sakramen pengurapan orang sakit.

Setelah itu pada abad kesepuluh, pengurapan ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mendekati kematian. Sampai akhirnya banyak yang menamakan sakramen ini sebagai sakramen terakhir.

5. Abad Keduabelas

Praktis pengurapan dengan minyak suci tidak hanya dioleskan pada bagian yang sakit saja. Melainkan juga pada indera manusia sehingga mencerminkan gagasan bahwa indera adalah penyebab dosa.

Teolog Fransiskan berspekulasi bahwa sakramen pengurapan khusus untuk mengampuni dosa hina. Sementara itu teolog Domanika merasa sakramen ini bertujuan untuk menghapus sisa dosa, yakni kebiasaan buruk yang mungkin masih tetap dilakukan.

6. Abad Keenambelas

Di masa ini, Konsili Trente berusaha mengembalikan makna sakramen pengurapan orang sakit ke makna semula. Uskup menolak proposal yang berisi pembatasan pengurapan orang sakit hanya kepada mereka yang dalam keadaan sekart saja.

Alhasil, draf terakhir proposal menyatakan sakramen ini bisa digunakan oleh mereka yang sakit, terutama mereka yang sedang dalam keadaan darurat. Meski demikian rupanya orang-orang masih menganggap sakramen pengurapan hanya diperuntukkan bagi mereka yang dalam keadaan sekarat saja.

7. Tahun 1983

Kitab Hukum Kanon berbicara mengenai pengurapan orang sakit sebagai satu unsur dalam pemeliharaan pastoral orang yang sakit. Sakramen ini tidak hanya dipahami sebagai penyembuhan saja melainkan juga pengampunan.

Hal tersebut juga mengacu pada makna penyembuhan gereja mula-mula, yaitu penyembuhan pribadi secara keseluruhan. Kita juga bisa mengingat kembali kisah Yesus yang mengampuni dosa saat menyembuhkan, ini yang mendasari sakramen minyak suci dimaknai secara lebih mendalam.

8. Masa Kini

Sekarang sakramen pengurapan orang sakit kembali diperuntukkan bagi orang yang kesehatannya terganggu atau mereka yang lemah di usia lanjut. Jadi, untuk melakukan sakramen ini tidak harus menunggu sampai dalam keadaan darurat untuk mencegah adanya pandangan bahwa sakramen ini khusus bagi mereka yang mau meninggal.

Selain itu sakramen ini juga bisa dilakukan berkali-kali jika penyakitnya kambuh setelah diurapi, penyakit menjadi tambah parah, dan orangtua yang kondisinya lemah. Untuk menghindari penyalahgunaan sakramen ini, gereja Katolik memberi aturan hanya bisa diberikan bagi mereka yang kesehatannya terganggu atau ada alasan kuat lainnya.

Akhir Kata

Sekian dulu pembahasan dari kami mengenai awal mula sakramen pengurapan orang sakit. Mudah-mudahan dapat menambah wawasan yang baik untuk kita dalam memperdalam kerohanian.

Baca: