Perbedaan Gereja dan Institusi Sosial

Bedanya Gereja dengan Lembaga Masyarakat

Bersamakristus.org – Perbedaan gereja dan instirusi sosial. Pada kesempatan yang lalu kami telah membagikan ulasan tentang contoh peran gereja terhadap institusi sosial.

Sebagai informasi, insitusi sosial merupakan lembaga sosial yang bergerak untuk kepentingan masyarakat. Lembaga sosial tidak didirikan untuk mendatangkan keuntungan bagi pihak tertentu.

Gereja pun dianggap menjadi lembaga sosial karena memiliki peran-peran penting bagi masyarakat di luar gereja. Bahkan juga di luar agama Kristen Protestan maupu Katolik.

Lalu pertanyaannya, jika gereja memiliki peran sebagai institusi sosial, berarti gereja berbeda dengan institusi sosial bukan? Berarti apa perbedaan antara gereja dan institusi sosial?

Bagi yang belum mengetahuinya, di sini kami akan mengulas secara lengkap tentang perbedaan gereja dengan institusi sosial. Silahkan simak ulasannya pada pembahasan di bawah ini.

Perbedaan Gereja dengan Institusi Lembaga Sosial

Berikut perbedaan antara gereja dengan institusi atau lembaga sosial masyarakat.

1. Gereja Berbentuk Rohani

Gereja memiliki bentuk rohani, berbeda dengan institusi sosial yang berbentuk duniawi. Sifat rohani maksudnya gereja selalu mengupayakan kebutuhan rohani, kebutuhan bisa tercukupi dengan aktivitas seperti ibadah, retret, meditasi, outbond, renungan, dan sebagainya.

Secara tidak langsung hal-hal tersebut dapat menolong iman umat berkembang dengan ada suasana psikis atau mental yang lebih baik. Mungkin dapat sedikit susah untuk mengetahui apa itu kebutuhan rohani, maka biar aku jelaskan sedikit lagi.

Ada dua tipe kebutuhan manusia, yakni kebutuhan jasmani dan rohani. Bila Anda ingin suasana hati yag damai, merasakan cinta dari sesama atau Allah, itu kebutuhan rohani. Kebutuhan inilah yang diupayakan untuk dipenuhi oleh gereja.

Pertumbuhan rohani dapat diukur oleh diri Anda sendiri. Apabila Anda sudah lebih banyak mengaplikasikan firman Tuhan pada Alkitab itu berarti iman Anda sudah bertumbuh. Rasa cemas, keraguan, ketakutan, dan selalu mengesampingkan Tuhan yang kemudian hilang dalam segala perjalanan hidup Anda juga dapat menjadi salah satu tanda dapat pertumbuhan iman Anda.

Sebagai seorang manusia yang tinggal pada jaman yang sudah maju, pemenuhan kebutuhan rohani dapat amat diperlukan. Karena, cuma dengan menjadi kaya saja tidak menjamin kepuasan batin ataupun kebahagian diri Anda sendiri.

2. Gereja Tidak Berbentuk Memaksa

Gereja juga tidak berbentuk memaksa, berbeda dengan institusi sosial yang memiliki berbagai aturan untuk mencapai tujuan, menyesuaikan dengan hidup manusia agar lebih baik. Contohnya aturan di sekolah, secara tak langsung Anda diminta untuk mengikuti ketetapan itu demi ketertiban sekolah, ini tak ada di gereja.

Sebenarnya, gereja mengajarkan kita untuk ikuti dan menuruti perintah Allah dan segala hukumNya terutama hukum kasih. Karena kasih Allah yang besar pada manusia, manusia mempunyai tekad bebas di mana perihal ini memicu manusia menjadi spesial dan berlainan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain.

Manusia dapat memilih untuk lakukan segala suatu dengan kebebasan ini, sehingga pada muaranya adalah mengakui Allah dan ikuti semua ajaran-Nya. Gereja di sini tidak pernah memaksa dan tugas gereja hanyalah menolong menambah kesadaran umat untuk selalu bersyukur atas semua rahmat yang sudah diterima dari Tuhan Allah sendiri.

Ini sangat erat kaitannya dengan komitmen ajaran sosial gereja sebagai fundamental pemikiran di mana kita perlu mengasihi dan menolong satu mirip lain tanpa pamrih.

3. Tidak Memenuhi Kebutuhan Hidup

Gereja juga lebh membuka diri pada suasana di sekitarnya karena pengakuan kebebasan pada gereja. Meski gereja juga menghiraukan suasana umat dan masyarakat dalam bentuk donasi dan pertolongan kemanusiaan lainya, namun tujuan utama gereja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup secara rohani.

Insitusi sosial masih terbagi ulang kedalam lebih dari satu instansi yang mempunyai target untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Contohnya saja tersedia instansi pendidikan, politik, agama, dan lain sebagainya. Adanya semua instansi itu memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam beraneka bidang atau segi kehidupannya.

4. Sanksi Hukum

Di gereja, hukum yang diajarkan adalah hukum–hukum Allah yang memiliki tujuan untuk memicu kehidupan manusia itu menjadi lebih baik dan terutama ulang untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan dapat dengan Allah nantinya.

Jika kita menentang hukum yang sudah ada, maka kita bisa sama saja dengan melakukan dosa. Dan, sanksi dosa atau yang biasa dikenal juga dengan akibat dosa menurut Alkitab itu baru dapat kita rasakan sesudah kematian.

Sementara pada institusi sosial, aturan yang dilanggar akan membuat anggotanya mendapat sanksi hukum secara langsung. Ambil contohnya pada sementara berada di sekolah dan Anda terlambat untuk masuk kedalam kelas ataupun lupa untuk menghimpun tugas – tugas yang ada.

Anda dapat memperoleh poin pelanggaran secara segera sebagai sanksi atas kelakuan Anda. Karena ada saksi hukum yang mengetahui dan dapat secara segera dirasakan oleh pelanggarnya, maka banyak orang dapat mengupayakan untuk mentaati ketetapan – ketetapan yang ada.

5. Bersifat Universal

Gereja bersifat universal, artinya gereja menghargai nilai-nilai yang dari Tuhan Allah melalui Yesus Kristus yang dicantumkan dalam Alkitab. Universal juga memiliki arti gereja terbuka untuk semua orang dari berbagai kalangan, ini berbeda jika dibandingkan dengan institusi sosial.

Pada institusi sosial, ambil contohnya sebagai sekolah, kita dapat lihat bahwa nilai–nilai pembelajaran yang dijunjung pada suatu sekolah dari satu negara dengan negara yang lain tentunya dapat berbeda.

Misalnya pada proses pembelajaran di Indonesia, kita dapat mengupayakan membentuk kita sebagai spesial yang lebih disiplin dan cekatan dalam mengerjakan tugas–tugas yang diberikan. Sedangkan di Finlandia, proses pembelajaran dapat mengupayakan sesuai dan dimaksimalkan sebaik mungkin agar pada murid tidak perlu mempunyai PR.

Pada tingkatan sekolah dasar yakni terasa dari TK–SMA juga dapat dibatasi ketetapan yang berdasarkan umur. Jadi, bila Anda melewati batasan umur khusus maka Anda tidak dapat untuk menempuh pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu. Tentunya perihal ini dapat berlainan bukan? Gereja dapat terima siapa saja Anda apa pun latar belakang Anda.

6. Bentuk Peraturan

Norma yang ditetapkna di gereja sangat mendasar dan fundamental, namun praktek sehari-harinya sulit dilakukan. Contohnya kita dilarang berbohong, namun nyatanya kita sering berbohong. Ini juga sangat berlainan dengan institusi sosial.

Mungkin dapat tersedia lebih dari satu ketetapan seperti, Anda yang diwajibkan untuk berkunjung pas waktu, kenakan atribut lengkap, dan lain sebagainya yang sebenarnya memadai rumit untuk dilakukan terutama bagi mereka yang baru saja berhimpun kedalam institusi sosial tertentu. Tapi pada prakteknya meski kita sering melanggarnya, kita bisa selalu beurpaya tidak melanggar.

Jumlah pelanggaran yang kita lakukan bahkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah ketaatan kita pada ketetapan yang berlaku. Meski sebenarnya tidak dapat disangkal bahwa gereja juga mempunyai fungsi yang dapat dibilang mirip dengan institusi sosial, tapi selalu saja keduanya adalah perihal yang berbeda.

Adanya aktivitas yang dilakukan Gereja seperti lakukan donasi kepada kaum bapak dan ikut dan juga dalam lakukan donasi kepada masyarakat korban bencana alam adalah sedikit perumpamaan peran Gereja sebagai institusi sosial. Beberapa perihal yang mirip antara Gereja dan institusi sosial adalah seperti ada susunan keanggotaan, terbuka untuk masyarakat, mempunyai visi dan misi, dan mempunyai anggaran.

Akhir Kata

Demikian pembahasan singkat mengenai perbedaan gereja dan institusi lembaga sosial. Mudah-mudahan menjawab rasa penasaran kita mengenai perbedaan di antara keduanya.

Baca: